Jaluangit.id || Simalungun, Kehidupan manusia di era modern saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat. Kemajuan teknologi, perkembangan media sosial, hingga persaingan ekonomi membuat banyak orang berlomba mengejar kesuksesan duniawi. Namun di balik gemerlap kehidupan modern tersebut, perlahan nilai-nilai religi dan kemanusiaan mulai memudar dari kehidupan masyarakat.
Hari ini banyak manusia bekerja tanpa mengenal waktu demi mengejar harta dan jabatan. Dari pagi hingga malam sibuk mencari uang, tetapi lupa mencari ketenangan hati. Banyak yang terlihat tersenyum di luar, namun sebenarnya menyimpan kegelisahan, tekanan hidup, bahkan kehilangan arah tujuan hidup yang sebenarnya.
Fenomena ini terlihat nyata di tengah masyarakat.
Generasi muda semakin mudah terpengaruh oleh pergaulan bebas, narkoba, judi online, minuman keras, hingga gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan sesaat. Media sosial juga menjadi salah satu penyebab manusia semakin jauh dari rasa syukur, karena kehidupan kini sering diukur dari kemewahan, popularitas, dan pencitraan.
Ironisnya, ketika manusia terlalu sibuk mengejar dunia, mereka mulai melupakan bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Usia manusia tidak ada yang tahu kapan berakhir. Kematian tidak memandang kaya atau miskin, tua maupun muda. Semua manusia pada akhirnya akan meninggalkan dunia dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan Tuhan.
Tokoh agama dan pemerhati sosial KH Muhammad Mujahid Ridho Ma’ Arif Al-isbah, Pemimpin Tariqat ahlisunnah waljamaah surau Madinatul Abidin, di Kabupaten Simalungun mengingatkan bahwa kemerosotan moral yang terjadi saat ini bukan hanya disebabkan faktor ekonomi, tetapi juga karena lemahnya pondasi agama dalam kehidupan masyarakat.
“Banyak orang mengejar dunia sampai lupa memperbaiki diri. Padahal ketika meninggal nanti, bukan harta yang dibawa, melainkan amal dan kebaikan selama hidup,” ungkap salah seorang tokoh agama.
Menurutnya, kehidupan dunia dan akhirat seharusnya berjalan seimbang. Manusia memang diwajibkan bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun jangan sampai melupakan ibadah, akhlak, serta kepedulian terhadap sesama manusia.
Saat ini masih banyak masyarakat kecil yang hidup dalam kesulitan, anak-anak terlantar yang membutuhkan perhatian, hingga orang tua yang hidup sendiri tanpa kepedulian keluarganya. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa rasa kemanusiaan dan kasih sayang perlahan mulai berkurang di tengah kehidupan modern yang semakin individualis.
Selain itu, perkembangan teknologi yang tidak dibarengi pengawasan moral juga menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Konten negatif sangat mudah diakses, sementara pendidikan agama dan akhlak sering dianggap tidak penting. Akibatnya, banyak anak muda kehilangan rasa hormat kepada orang tua, guru, bahkan kepada dirinya sendiri.
Padahal agama mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang mencari kekayaan, tetapi juga tentang menjaga hati, menolong sesama, menghormati orang tua, serta memperbanyak amal kebaikan sebagai bekal menuju akhirat.
Tokoh masyarakat juga mengajak seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, tokoh agama, hingga pemerintah untuk bersama-sama memperkuat nilai religi di tengah masyarakat. Pendidikan agama dinilai harus kembali menjadi pondasi utama dalam membangun generasi yang berakhlak dan memiliki rasa kemanusiaan.
“Jangan sampai anak-anak kita pintar teknologi, tetapi kehilangan moral dan iman. Karena sehebat apa pun manusia di dunia, semuanya akan kembali kepada Tuhan,” tambahnya.
Masyarakat diingatkan agar tidak terlena oleh kemewahan dunia yang sifatnya sementara. Jabatan bisa hilang, harta bisa habis, dan popularitas bisa lenyap kapan saja. Namun amal kebaikan, doa, dan ketulusan hati akan menjadi bekal yang kekal hingga kehidupan akhirat.
Di tengah kerasnya kehidupan zaman sekarang, manusia diharapkan kembali mendekatkan diri kepada Tuhan, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak ibadah, serta menjaga hati dari sifat iri, dengki, dan kesombongan.
Karena sejatinya, hidup bukan hanya tentang siapa yang paling kaya atau paling terkenal. Tetapi tentang siapa yang paling banyak memberi manfaat, menjaga keimanan, dan meninggalkan kebaikan sebelum ajal menjemput.
Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi selamanya.(*)
