Peredaran Narkoba di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, Dugaan Keterlibatan Oknum APH Jadi Sorotan Nasional Jakarta

oleh -71 Dilihat

Photo hanya ilustrasi

Maraknya pengungkapan jaringan narkoba di berbagai daerah di Indonesia kembali memunculkan kekhawatiran publik terhadap semakin luasnya peredaran narkotika, termasuk dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum (APH).

Sejumlah kasus yang terungkap sepanjang 2025 hingga 2026 menunjukkan bahwa jaringan narkoba tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga diduga telah merambah ke lingkaran aparat yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan narkoba.

Fenomena ini memicu kritik keras dari masyarakat, aktivis anti narkoba, pemerhati hukum, hingga tokoh sosial yang menilai perang melawan narkoba di Indonesia masih menghadapi persoalan serius di internal penegakan hukum.

Bengkalis, Riau: Tiga Oknum Polisi Diamankan Saat Pesta Narkoba
Kasus mengejutkan terjadi di Kabupaten Bengkalis, Riau. Satuan Reserse Narkoba Polres Bengkalis menggerebek pesta narkoba di sebuah hotel di Jalan Yos Sudarso dan mengamankan tujuh orang, termasuk tiga oknum anggota polisi aktif.

Kasus tersebut memicu kemarahan publik karena aparat yang seharusnya memberantas narkoba justru diduga ikut terlibat dalam penyalahgunaan barang haram itu.

Madiun, Jawa Timur: Empat Polisi Diduga Terlibat Peredaran Sabu
Di Jawa Timur, Satreskoba Polres Madiun membongkar jaringan narkoba yang menyeret empat oknum anggota polisi. Salah satu anggota diduga berperan sebagai pengedar setelah ditemukan barang bukti sabu dari rumah pelaku.

Kasus ini memperkuat kritik masyarakat bahwa pengawasan internal terhadap aparat masih lemah dan rawan disusupi jaringan narkotika.

Kalimantan Timur: Eks Kasat Narkoba Ikut Terseret
Di Kalimantan Timur, publik dikejutkan dengan terseretnya mantan Kasat Narkoba Polres Kutai Kartanegara dalam kasus narkotika dan obat keras ilegal.

Banyak pihak menilai kasus ini menjadi ironi besar karena pejabat yang sebelumnya menangani pemberantasan narkoba justru diduga ikut berada dalam lingkaran peredaran barang haram tersebut.

Bengkulu: Oknum Polisi Diduga Terlibat Jaringan Bandar
Polda Bengkulu juga pernah membongkar jaringan peredaran sabu dan ganja yang melibatkan dua bandar narkoba bersama seorang oknum anggota Polri di Kabupaten Lebong.

Kasus ini memunculkan dugaan kuat bahwa jaringan narkoba memiliki akses hingga ke lingkaran aparat sehingga bisnis haram tersebut dapat bertahan lama di sejumlah daerah.

Kepulauan Riau dan Kalimantan Utara Jadi Jalur Rawan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap adanya sejumlah anggota Polri yang diduga terlibat narkoba di wilayah Kepulauan Riau dan Kalimantan Utara, daerah yang dikenal rawan menjadi jalur masuk narkotika lintas negara melalui jalur laut dan perbatasan.

Kompolnas menilai persoalan ini bukan lagi kasus individual semata, melainkan tantangan serius bagi institusi penegak hukum secara nasional. Sumatera Utara Jadi Sorotan Besar Selain daerah lain, Sumatera Utara juga menjadi wilayah yang paling sering disorot terkait maraknya peredaran narkoba dan dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum. Posisi geografis yang dekat dengan jalur internasional dinilai membuat Sumut rawan menjadi pintu masuk narkotika dari luar negeri.

Medan: Perwira Polda Sumut Viral Diduga Gunakan Vape Narkoba Kasus yang paling menyita perhatian publik terjadi di Kota Medan setelah video seorang perwira Polda Sumut viral di media sosial karena diduga menggunakan vape yang mengandung narkotika bersama seorang wanita. Polda Sumut menyebut peristiwa tersebut berkaitan dengan kegiatan undercover penyelidikan narkoba, namun polemik tetap berkembang luas di tengah masyarakat.

Belakangan, oknum perwira tersebut dijatuhi sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) melalui sidang etik internal kepolisian.
Binjai: Oknum Polisi Diduga Edarkan 1 Kilogram Sabu Di Kota Binjai, seorang oknum anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut berinisial ES diduga terlibat dalam peredaran satu kilogram sabu.

Kasus tersebut langsung ditangani Bidang Propam Polda Sumut dan berujung pemecatan terhadap anggota yang bersangkutan.

Publik menilai kasus tersebut semakin mencederai citra aparat karena anggota yang bertugas memberantas narkoba justru diduga ikut mengedarkan barang haram tersebut.

Labuhan Batu Utara: Lorong 6 Disebut Lama Jadi Sarang Narkoba
Di Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura), pengungkapan jaringan narkoba di kawasan Lorong 6, Kelurahan Aek Kanopan Timur, menjadi perhatian besar masyarakat Sumatera Utara.

BNN kini memburu seorang bandar narkoba bernama Hadi Qurniawan Simangunsong alias Wawan yang telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait kasus jaringan narkoba dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Masyarakat mempertanyakan bagaimana kawasan yang disebut-sebut sudah lama menjadi titik transaksi narkoba dapat beroperasi cukup lama tanpa tindakan serius dari aparat. Banyak warga menduga mustahil jaringan besar dapat berjalan tanpa adanya kebocoran informasi atau dugaan keterlibatan oknum tertentu di lapangan.

Medan Barat: Pabrik Liquid Vape Narkotika Bernilai Rp300 Miliar
Polda Sumut juga pernah membongkar pabrik liquid vape yang diduga mengandung narkotika golongan I di kawasan Medan Barat dengan nilai barang bukti diperkirakan mencapai Rp300 miliar.

Kasus ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba kini semakin berkembang dengan berbagai modus baru yang menyasar generasi muda melalui produk vape dan liquid elektronik.

Kritik Keras Masyarakat: “APH Jangan Bermain Dua Kaki”Terungkapnya berbagai kasus narkoba yang menyeret oknum aparat penegak hukum memicu kritik keras dari masyarakat dan pemerhati hukum di berbagai daerah.

Banyak pihak menilai perang melawan narkoba akan sulit berhasil apabila masih ada aparat yang diduga ikut bermain atau membekingi jaringan tertentu.

“Kalau aparat sendiri ikut bermain, lalu rakyat harus percaya kepada siapa? Ini bukan lagi sekadar pelanggaran disiplin, tetapi ancaman serius terhadap masa depan generasi bangsa,” ujar seorang pemerhati sosial di Medan.

Masyarakat juga menilai istilah “oknum” tidak boleh dijadikan alasan untuk menutupi perlunya evaluasi besar-besaran di internal aparat penegak hukum. Publik meminta dilakukan pengawasan ketat, tes narkoba berkala, hingga penindakan tanpa pandang bulu terhadap aparat yang terbukti terlibat.

Pengamat: Bandar Besar Harus Dibongkar, Jangan Hanya Pemakai Kecil
Aktivis anti narkoba menilai selama ini penegakan hukum masih sering fokus pada pengguna kecil dan kurir lapangan, sementara bandar besar dan jaringan utama diduga masih banyak yang lolos.

Mereka meminta aparat penegak hukum serius membongkar aliran dana, tindak pidana pencucian uang (TPPU), hingga dugaan keterlibatan pihak-pihak yang melindungi jaringan narkoba.

“Kalau bandar besar tidak disentuh dan hanya pengguna kecil yang ditangkap, maka narkoba tidak akan pernah habis. Negara harus benar-benar hadir membersihkan jaringan ini sampai ke akar,” kata seorang pengamat hukum sosial di Sumatera Utara.

Desakan Bersih-Bersih Internal Aparat
Masyarakat kini mendesak pemerintah, Polri, BNN, dan seluruh aparat penegak hukum melakukan pembenahan total dalam pemberantasan narkoba, termasuk membersihkan institusi dari oknum-oknum yang terlibat.

Publik berharap perang melawan narkoba tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata, transparan, dan tegas terhadap siapa pun yang terlibat tanpa memandang jabatan maupun institusi.
(Tim-Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.