LASKAR SANTRI MENGGEMPUR PENJAJAH!

oleh -165 Dilihat

Dari Surabaya hingga Bekasi, Hizbullah Berdiri di Garis Depan Revolusi

JAKARTA – Dalam lembar-lembar agung Revolusi Fisik Indonesia, tercatat satu barisan pejuang yang lahir dari rahim pesantren, ditempa oleh doa para ulama, dan digerakkan oleh panggilan iman serta cinta tanah air: Laskar Hizbullah. Dibentuk pada Desember 1944 atas usulan tokoh-tokoh Masyumi seperti KH. Abdul Wahid Hasyim, laskar ini menjelma menjadi kekuatan tempur militan yang mengisi barisan pertahanan Republik dengan semboyan jihad dan nasionalisme yang tak terpisahkan.

Mereka bukan tentara reguler. Mereka adalah santri. Namun ketika tanah air dipanggil, kitab diganti senjata, sorban berubah menjadi ikat kepala perjuangan.

SURABAYA MEMBARA, 10 NOVEMBER 1945
” Santri di Jantung Pertempuran ”

Kontribusi paling heroik Laskar Hizbullah—yang berafiliasi dengan Divisi Sunan Ampel terpahat jelas dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Seruan Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi bara yang menyulut gelombang perlawanan. Ribuan santri dari Hizbullah dan Sabilillah, dari Jombang, Malang, hingga berbagai karesidenan di Jawa Timur, bergerak menuju Surabaya. Mereka datang bukan sekadar untuk bertempur, tetapi untuk mempertahankan kehormatan bangsa dan agama.

Sebelum dentuman meriam Sekutu mengguncang kota, Hizbullah telah lebih dahulu bergerak melucuti tentara Jepang. Senjata rampasan itulah yang kemudian menjadi modal menghadapi pasukan Inggris yang memboncengi NICA.

Pada 10 November, saat artileri Sekutu menghujani Surabaya tanpa ampun, pasukan Hizbullah mengambil posisi di sekitar Jembatan Merah hingga Jalan Gresik. Mereka berdiri di garis depan. Dengan persenjataan seadanya, bahkan sebagian hanya membawa bambu, rotan, atau pecut, para santri pejuang itu menghadapi pasukan Gurkha yang terlatih.
Namun Surabaya membuktikan satu hal: semangat yang lahir dari keyakinan tak mudah ditundukkan. Perlawanan mereka mengguncang dunia dan menjadikan 10 November sebagai simbol pengorbanan tanpa pamrih.

BEKASI LAUTAN API
” Laskar Ulama Menghadang Sekutu ”
Di Jawa Barat, bara perlawanan juga menyala. Di Karesidenan Bekasi, Laskar Hizbullah Resimen IV Batalyon III di bawah pengaruh tokoh ulama seperti Kiai Noer Ali berdiri menghadang laju Sekutu.

Pada 29 November 1945, sekitar 200 pasukan Hizbullah telah bersiap ketika tentara Sekutu mencoba memasuki Bekasi. Pertempuran sengit pecah di Sasak Kapuk. Mortir menghujani posisi para pejuang.

Serangan pertama Sekutu berhasil dipatahkan. Namun pada gelombang berikutnya, dengan kekuatan lebih besar, musuh membakar perkampungan rakyat. Api melalap rumah-rumah, dan peristiwa itu dikenang sebagai “Bekasi Lautan Api”, sebagaimana diberitakan surat kabar Merdeka kala itu.
Kerugian besar memang tak terhindarkan. Tetapi perlawanan tersebut berhasil menunda pergerakan musuh dan membuktikan bahwa rakyat bersenjata iman tak mudah ditaklukkan.
Front Gerilya dan Fusi ke TNI: Nasionalisme di Atas Segalanya

Saat Belanda melancarkan Agresi Militer I (1947) dan Agresi Militer II (1948), Laskar Hizbullah kembali menunjukkan ketangguhan dalam perang gerilya. Di Jombang, Malang, hingga Priangan, mereka bergerak lincah menyerang konvoi dan jalur logistik musuh.
Di Jombang, satuan Hizbullah dilaporkan memasang bom di bawah jembatan untuk menghantam konvoi kavaleri Belanda, aksi sabotase yang menghambat pergerakan dan suplai musuh.

Namun sejarah juga mencatat kedewasaan politik dan nasionalisme tinggi para pemimpin Hizbullah. Pada 3 Juni 1947, ketika Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai hasil penggabungan TRI dan berbagai laskar perjuangan, sebagian besar divisi Hizbullah menyatakan siap melebur.

Divisi Sunan Ampel dan berbagai batalyon di bawah tokoh seperti KH. Wahib Wahab dan KH. Saifuddin Zuhri menyerahkan pasukannya untuk memperkuat barisan TNI. Keputusan itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa kepentingan Republik berada di atas kepentingan golongan.

Laskar Hizbullah adalah saksi bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya digerakkan oleh senapan, tetapi juga oleh doa, fatwa, dan keyakinan. Di antara dentuman meriam dan kobaran api revolusi, para santri berdiri tegak membuktikan bahwa pesantren bukan sekadar pusat ilmu agama, melainkan juga benteng pertahanan bangsa.

Sejarah tidak boleh melupakan mereka.
Dari Surabaya yang membara, Bekasi yang menjadi lautan api, hingga rimba gerilya di seluruh Jawa. Laskar Hizbullah telah menorehkan tinta emas dalam kitab perjuangan Republik Indonesia.
Merdeka atau mati itulah sumpah yang mereka genggam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.