Oknum Polisi Pemeras Rp4,7 Miliar Ditangkap: Uang Mengalir ke Mana?

oleh -34 Dilihat

**

JAKARTA – Lagi-lagi, nama institusi kepolisian kembali tercoreng. Dua oknum polisi dari Polda Sumatera Utara, Brigadir B dan Kompol RS, berhasil membuktikan bahwa kreativitas dalam mencari uang memang tak mengenal batas—bahkan jika harus merampas dari 12 kepala sekolah yang seharusnya mendidik generasi bangsa.

Total Rp4,7 miliar berhasil mereka kumpulkan dengan teknik pemerasan tingkat tinggi. Jika ada kejuaraan dunia pungli, mungkin mereka sudah layak menerima medali emas. Namun, sayangnya, inovasi mereka ini justru mengantarkan mereka ke jeruji besi dan pemecatan dari kepolisian.

Kabar penangkapan ini langsung menarik perhatian publik, terutama karena jumlah uang yang diperas bukan sekadar recehan. Rp4,7 miliar! Uang sebanyak itu bisa membangun beberapa sekolah, tetapi sayangnya, malah mengalir ke kantong yang salah.

Tak heran jika Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni, langsung bereaksi keras.

“Oknum pemeras ini sudah terlalu sering kita dengar aksi-aksinya, dan merekalah yang bikin citra kepolisian buruk,” ujar Sahroni, yang tampaknya mulai bosan mendengar kasus-kasus serupa.

Ia tak hanya menuntut pemecatan dan hukuman pidana bagi kedua pelaku, tapi juga mendesak pelacakan aliran dana tersebut.

“Terus, lacak juga itu uangnya mengalir ke mana, karena tidak mungkin mereka hanya beraksi berdua. Tentu ada setoran ke atasnya lagi,” tambahnya dengan nada curiga.

Pertanyaan Besar: Uang Rp4,7 Miliar ke Mana?

Publik pun mulai bertanya-tanya: Apakah Rp4,7 miliar ini hanya dinikmati oleh dua orang saja?

Dalam sejarah pemerasan di negeri ini, hampir tidak pernah ada kasus di mana uang hanya berhenti di tangan eksekutornya. Biasanya, ada “rantai makanan” yang harus dipenuhi—dari tingkat bawah hingga entah ke mana.

Atau mungkin ada rekening misterius yang tiba-tiba gemuk?

Saatnya Bersih-Bersih atau Sekadar Sandiwara?

Sahroni melihat kasus ini sebagai “momentum bersih-bersih kepolisian.” Pernyataan yang indah, tapi publik tentu lebih suka melihat aksi nyata daripada sekadar janji manis di media.

“Kalau ada potensi tersangka baru, sikat sekalian saja dan pecat semua. Orang-orang bermental pungli ini tidak punya tempat di kepolisian,” tegasnya.

Namun, apakah “pembersihan” ini benar-benar akan terjadi? Atau seperti biasa, hanya dua “kambing hitam” yang dikorbankan, sementara “serigala-serigala besar” tetap bebas menikmati hasil rampasan?

Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal yang pasti: masyarakat sudah semakin sulit dibodohi. (PPWI/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.